Bekam sebagai Terapi Hipertensi ditinjau dari Ilmu Kedokteran Modern

Bekam Surabaya

Berbekam sebagai Terapi Hipertensi ditinjau dari Ilmu Kedokteran Modern
Bekam bertujuan untuk mengeluarkan darah kotor yang ada dalam tubuh. Dalam tubuh manusia terdapat darah-darah yang tidak bisa bergerak lagi atau statis. Darah itu tidak berfungsi lagi, sehingga membuat aliran darah menjadi tidak lancar dan menjadi penyebab berbagai macam penyakit. Darah yang statis tersebut mengendap di permukaan bawah kulit dan dengan berbekam darah statis itu disedot keluar. Fungsi pengobatan bekam terhadap kesehatan ada dua yaitu sebagai pencegah dan penyembuh. Sebagai pencegah atau pemeliharaan kesehatan bekam dapat dijalankan kepada orang yang relatif tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Sementara bagi orang yang memiliki gangguan kesehatan tertentu, bekam berfungsi untuk menyembuhkan.
Penelitian telah membuktikan bahwa bekam sebagai pengobatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alihi wa sallam mempunyai manfaat yang dibuktikan secara ilmiah dapat mengobati penyakit dengan membersihkan darah dan cairan interstisial dari substansi penyebab penyakit. Beberapa cara kerja bekam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kulit dan otot memiliki banyak titik saraf di bawahnya. Titik-titik ini saling berhubungan antara organ tubuh satu dengan lainnya sehingga bekam dilakukan tidak selalu pada bagian tubuh yang sakit namun pada titik simpul saraf terkait.11 Pada sistem baroreseptor arteri, mediator-mediator inflamasi yang keluar pada saat dilakukan bekam menstimulus vasokontriksi dan vasodilatasi pembuluh darah sehingga pembuluh darah dapat merespon dan meningkatkan kepekaan terhadap faktor-faktor hipertensi.
Bekam biasanya dilakukan pada permukaan kulit (kutis), sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan bawah kulit (subkutis). Kerusakan ini akan menyebabkan pelepasan beberapa zat seperti serotonin, histamin, bradiknin, slow reaction substance (SRS) serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat ini menyebabkan terjadinya dilatasi (pelebaran) kapiler dan arteriol, serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan terjadinya perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah sehingga timbul efek relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku. Di samping itu, vasodilatasi (proses perluasan pembuluh darah) umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Peran lain juga dilakukan oleh adenohipofisis yang akan melepaskan corticotrophin releasing factor (CRF). CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya hormon-hormon seperti ACTH, corticotrophin, dan kortikosteroid. Hormon kortikosteroid ini mempunyai efek menyembuhkan peradangan serta menstabilkan permeabilitas sel. Di samping itu, stimulasi saraf permukaan kulit oleh terapi bekam ini akan dilanjutkan ke arah thalamus sehingga menghasilkan endorphin. Selanjutnya endorphin akan meningkatkan aktivitas saraf simpatis sehingga curah jantung menurun dan tekanan darah akan turun.
Sedangkan golongan histamin yang ditimbulkannya mempunyai manfaat dalam proses reparasi (perbaikan) sel dan jaringan yang rusak, serta memacu pembentukan reticuloendhotelial cell yang akan meninggikan daya resistensi (daya tahan) dan imunitas (kekebalan) tubuh. Sistem imun ini terjadi melalui pembentukan interleukin dari sel karena faktor neural, peningkatan jumlah sel T karena peningkatan set-enkephalin, enkephalin, dan endorphin yang merupakan mediator antara susunan saraf pusat dan sistem imun, substansi P yang mempunyai fungsi parasimpatis dan sistem imun, serta peranan kelenjar hipofisis dan hipotalamus anterior yang memproduksi CRF.
Penelitian lain menyebutkan bahwa bekam melalui zat nitrit oksida (NO) dapat berperan dalam vasodilatasi dan meningkatkan suplai nutrisi dan darah yang dibutuhkan oleh sel-sel dan lapisan-lapisan pembuluh darah arteri maupun vena, sehingga menjadikannya lebih kuat dan elastis serta mengurangi tekanan darah. Bekam juga berpengaruh dalam menstabilkan saraf simpatik sehingga sekresi renin dapat dikontrol. Kestabilan sekresi renin ini kemudian menstabilkan pengeluaran hormon aldosterone sehingga pengeluaran garam dan air dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh seseorang dan volume cairan dalam tubuh dapat dikendalikan. Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah menjadi normal kembali. Pada proses autoregulasi vaskular, kadar natrium dalam darah yang normal menyebabkan tekanan vaskular terutama pada tekanan arteri sistemik pembuluh darah menjadi normal. 

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf:87)

Penulis: 
Nur Mahmudah (Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya)
Rosalia Kusuma Dewi (Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jenderal Soedirman)
Faried Alwi Mar’ie (Fakultas Kedokteran Universitas Abdu Rab Pekanbaru Riau)
Editor: Rezeki Ananda Elyani (Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekam Surabaya

Total Pengunjung